Mengagungkan Nama dan Sifat Allah

Diterjemahkan oleh Abu Hamid Fauzi bin Isnain

dari Kajian Kitabut Tauhid Asy-Syaikh Abdurrahman bin ‘Umar Al-Mar’i, ‘Aden, Sabtu, 26 Rabi’ul Awwal

1431, 13 Maret 2010.

باب قول الله تعالى: (وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُواْ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَآئِهِ)» الآية

ذكر ابن أبي حاتم عن ابن عباس رضي الله عنهما (يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَآئِهِ): يشركون. وعنه: سموا اللات من الإله، والعزى من العزيز. وعن الأعمش: يدخلون فيها

ما ليس منها.

      Kitabut Tauhid sebagian besar membahas tauhidullah dari sisi uluhiyah dan perkara-perkara yang membatalkan atau merusaknya. Dan pada bab-bab akhir dari kitab ini, Asy Syaikh Muhammad At-Tamimi ingin menjelaskan tauhidullah dari sisi rububiyah dan asma was sifat.

Khusus dalam bab ini, beliau bermaksud menetapkan bahwa di antara macam tauhid  yang harus diimani adalah bahwa Allah memiliki Al Asma` Al Husna dan As Sifat Al ‘Ula. (Beliau juga membahas perkara yang) terkait dengan Al-Asma wa Ash-Shifat yaitu permasalahan tawassul yang masyru’ (yang disyariatkan) dan tawassul yang mamnu’ (dilarang).

Allah berfirman :

وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُواْ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَآئِهِ

Dan hanya milik Allah sajalah Al Asmaul husna, maka berdoalah dengannya dan tinggalkan oleh kalian orang-orang yang menyimpang dalam asmaul husna

Dalam ayat ini, Allah kabarkan bahwa Dia memiliki Al-Asmaul Husna, yakni nama-nama yang keindahannya, kebaikannya, dan kesempurnaannya mencapai puncaknya (yakni tidak ada yang menyamai kesempurnaan dan keindahan nama-nama Allah tersebut).

Allah memiliki nama yang sesuai dengan kesempurnaannya, makhluk juga memiliki nama, akan tetapi nama pada makhluk adalah nama yang sesuai dengan kelemahan dan kekurangannya. Al-Asmaul Husna dan As-Sifatul ‘Ula adalah kekhususan bagi Allah.

Nama Allah dan sifat-Nya tidaklah terbatas. Sebagaimana hal ini difahami dari doa Nabi r :

 اللهم إني أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك أو أنزلته في كتابك أو علمته أحدا من خلقك أو استأثرت به في  علم الغيب عندك  … الحديث.

Ya Allah Aku meminta kepada Mu, dengan segenap nama yang menjadi milik-Mu, dengan nama-nama yang Engkau turunkan dalam kitab Mu, atau nama-nama yang Engkau ajarkan kepada seorang dari hamba-Mu, atau nama-nama yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada pada sisimu – al hadits

Nama Allah sangatlah banyak, diantaranya Nabi r menyebutkan bahwa Allah memiliki 99 nama yang barang siapa menghitungnya, akan masuk jannah.

Apa yang wajib atas kita terhadap nama-nama Allah ini? Adalah seperti yang disebutkan oleh Nabi dalam hadits ini yaitu al ihsha` yang secara letterlijk bermakna ‘menghitung’

Ahlul ilmi mengatakan bahwa menghitung nama-nama Allah harus memenuhi hal – hal berikut:

  1. Mengenal dan menyebutkan nama-nama tersebut.
  2. Mengenal makna yang terkandung dalam nama-nama tersebut
  3. Memuji Allah dan menyanjung-Nya, dengan nama-nama tersebut.
  4. Beribadah dengan doa kepada Allah dengan bertawassul, menyebutkan nama-nama Allah yang berkesesuian dengan konteks doa yang engkau minta kepada-Nya.
  5. Dan beribadah kepada Allah dengan kelaziman dari nama dan sifat-sifat Allah tersebut. Inilah yang wajib bagi muslim, beribadah kepada Allah dengan kelaziman dari nama-nama Allah tersebut, yakni ketika beribadah ia hadirkan dalam kalbunya nama dan sifat-sifat Allah.

 

(Sebagai misal), di antara nama Allah adalah  As-Sami’  dan Al-Bashir, dan di antara sifat-Nya adalah bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, Penglihatan dan Pendengaran Allah Maha Sempurna tidak ada kekurangan sama sekali. Mendengar apa yang kau lafazkan, Melihat apa yang engkau perbuat dan Allah akan memberitakan ucapan dan perbuatanmu di hari kemudian. Perasaan dan keyakinan semacam ini akan membawa seseorang memiliki sikap muraqabah (Merasa diawasi Allah), takut kepada Allah dan taqwa kepada-Nya baik dalam keadaan sirr (bersendiri) atau ditengah-tengah sesamanya.

Di antara nama Allah adalah Al-Qawiy, Al-‘Aziz, Al-Jabbar, Al-Muntaqim. Dengan menghayati kandungan sifat dari nama-nama ini akan melahirkan sifat takut untuk melanggar batasan-batasan Allah.

Ia tahu bahwa Allah Al-Jawad, Al-Karim, dengan menghayati kandungan dan konsekwensi dari nama ini akan muncul sifat thama’ (berharap besar akan rahmat-Nya) dan mendorongnya untuk taat kepada Allah. Kemudian dengan meminta / berdoa kepada Allah  dengan menyebutkan nama yang sesuai dengan apa yang kau minta dari Allah Misalnya Ya Kariim, tambahkanlah untukku rezki-Mu, Ya Jabbar, menangkanlah aku dari musuh-musuhku, Ya Ghaffar ampunilah dosaku. Inilah yang dimaksud tawassul dengan nama dan sifat Allah.

Bentuk tawassul masyru’ yang lainnya adalah minta kepada seorang shalih (hidup) untuk berdoa untuknya. [1]

Atau tawassul dengan amal shalih yang dia kerjakan misalnya: “Ya Allah dengan imanku kepada-Mu, dengan hafalanku terhadap Kitab-Mu, dengan amar ma’ruf nahi munkar yang ku tegakkan, atau yang lainnya dari amal shalih…aku meminta demikian dan demikian.”[2] Atau seperti doa yang disebutkan dalam akhir Ali Imran:

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ

Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Rabb-mu”, maka kami pun beriman. Ya Rabb kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ali Imran:193

Adapun tawassul yang dilarang adalah: Tawassul dengan dzat makhluk. Tawassul jenis ini bisa jadi merupakan wasilah kepada syirik akbar atau merupakan syirik akbar, yaitu tawassul yang bermakna ibadah kepada selain Allah, seperti nadzar kepada selain Allah, beristighatsah pada perkara-perkara yang tidak dimampui kecuali oleh Allah. Inilah yang Allah sebutkan di dalam ayat-Nya:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu). Yunus: 18

Allah tetapkan perbuatan mereka sebagai keyirikan. Dan Allah mengingkarinya.

 أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. Az Zumar:3

Adapun  tawwasul  dengan dzat makhluk, jah (kemuliaan) seseorang, haq seseorang, tanpa ada sisi peribadatan kepada mereka, maka yang demikian  adalah bid’ah dan merupakan pintu yang bisa mengantarkan kepada syirik akbar.

Kemudian di akhir ayat ini Allah melarang dari perbuatan ilhad terhdap nama-nama Allah dan menjauhkan diri dari para pelakunya. Diterangkan oleh para ulama, macam-macam ilhad terhadap nama-nama Allah.

Adapun atsar yang disebutkan muallif dari ibnu Abbas (maka yang shahih, atsar tersebut  adalah dari Qatadah bukan dari Ibnu Abbas. Dan dua atsar berikutnya semuanya dha’if.

Bentuk-bentuk Ilhad adalah sebagai berikut :

  1. Memberi nama selain Allah dengan nama-nama Allah (seperti Latta (dari Al Ilah/ Al ‘Uzza dari Al ‘Aziz, Al Manaat dari nama Al Manan)
  2. Menamai Allah dengan nama yang Allah tidak menamai diri-Nya dengan nama-nama tersbut.
  3. Menyamakan sifat Allah yang terkandung dalam nama-naman-Nya dengan sifat  makhluk.
  4. menentang dan menafikan nama Allah secara total seperti perbuatan jahmiyahmenetapkan nama Allah akan tetapi mengingkari  maknanya, seperti perbuatan Asya’irah dan Mu’tazilah.

 

 

 

 

 


[1]  Seperti kisah datangnya a’robi kepada Rasulullah SAW dalam khutbah jum’at, minta agar didoakan kepada Allah agar segera diturunkan hujan. (Lihat Shahih Al-Bukhari Kitabul Jumu’ah no.1013)

[2] Atau seperti kisah tiga orang yang terperangkap dalam goa, semua berdoa kepada Allah dan bertawasul dengan amalan soleh yang mereka lakukan. (Lihat Shahih Al-Bukhari no.2272)

Iklan

Komentar ditutup.