Lihatlah Kebawah


Oleh : Al Ustadz Abu Zakariya Ahmad Fauziddin

بسم الله الرحمن الرحيم

Dunia dan perhiasannya demikian menyilaukan. Allah berikan kepada hamba yang dicintainya maupun kepada hamba yang tidak dicintainya, sehingga kelebihan yang didapatkan seseorang dalam perkara dunia bukanlah jaminan bahwa dia dicintai oleh Dzat yang di atas. Berapa banyak orang yang jahat, ingkar kepada Allah dan RasulNya, namun dia mendapatkan kekayaan yang melimpah dan jabatan yang tinggi. Sebaliknya tidak sedikit hamba yang taat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan RasulNya tidak mendapatkan dunia kecuali sekedarnya. Kenapa demikian ? karena memang dunia tiada bernilai di sisi Allah Subhanau wa ta’ala . sampai-sampai kata Rasul Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia :

لَو كَانَتِ الدُنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شُرْبَةَ مَاء

“Seandainya dunia ini di sisi Allah punya nilai setara dengan sebelah sayab nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum seorang kafir seteguk airpun”. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Bani dalam Ash Shahihah no. 940)
Tatkala Rasulullah lewat di sebuah pasar, sementara orang-oarng berada di sekitarnya, beliau melewati bangkai seekor anak kambing yang cacat telinganya. Beliau memegang telinga bangkai hewat tersebut, lalu berkata :

أَيٌّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ ؟ فَقَالُوا : ما نحب إنه لنا بشيء و ما نصنع به ؟ ثم قال : أتحبون أنه لكم ؟ قالوا : و الله لو كان حيا كان عيبا أنه أسك, فكيف و هو ميت. فقال فوالله للدنيا أهون على الله من هذا عليكم

“Siapa diantara kalian yang ingin memiliki bangkai anak kambing ini dengan membayar satu dirham ?” Maka para shahabat mengatakan : kami tidak ingin memilikinya walau dengan membayar sedikit, karena apa yang akan kami perbuat dengannya? Kemudian Rasul bertanya kembali :”Apakah kalian ingin bangkai anak kambing ini jadi milik kalian?” kemudia mereka mengatakan : Demi Allah seandainya hewan ini masih hidup, ia cacat, telinganya kecil, apalagi ia sudah menjadi bangkai. Maka Rasul berkata : “Maka demi Allah, sungguh dunia ini lebih hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian”. (HR. Muslim)
Mungkin kita termasuk orang yang mendapatkan dunia sekadarnya, tidak berlebih seperti yang diperoleh orang-orang di sekitar kita, yang mungkin punya rumah mewah, mobil, perabotan, jabatan dan lain sebagainya. Kekurangan yang ada pada diri kita dari sisi dunia dan kelebihan yang diperoleh orang lain seharusnya tidak perlu membuat dada kita sempit sehingga kita berburuk sangka kepada Allah yang Maha Adil. Rasul yang mulia shalallahu ‘alaihi wa sallamtelah memberi bimbingan kepada kita dalam perkara dunia, beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أنظروا من هو أسفل منكم و لا تنظروا إلى من هو فوقكم فهو أجرر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم.

“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian dan janganlah melihat orang yang lebih di atas kalian, yang demikian ini (melihat kebawah) akan membuat kalian tidak meremehkan kenikmatan dari Allah yang diberikan kepada kalian.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat yang lain :

إذا تظر أحدكم إلى من فضل عليه في المال و الخلق فالينظروا إلى من هو أسفل منه

“Apabila salah seorang dari kalian melihat kepada orang yang diberi kelebihan dalam hal harta dan rupa/fisik, maka hendaklah ia melihat orang yang lebih rendah dari dirinya”.
Hadits di atas memberi arahan kepada kaum muslimin agar selalu melihat kebawah dalam perkara dunia dan jangan melihat kepada orang yang melebihinya. Karena ketika ia berbuat demikian akan membuatnya berkeluh kesah, sempit dada dan tidak bersyukur dengan apa yang Allah berikan kepadanya. Sebaliknya dalam perkara agama/akhirat, seorang muslim harusnya melihat keatas kepada orang yang lebih darinya. Dalam beramal ketaatan, dalam keshalihan dan ketaqwaan, sehingga dia terpacu untuk terus menambah ketaatan dan amal ibadah. (Bahjatul Nadhirin,1/534)
Al Imam Ath Thabari rahimahullah berkata tentang hadits di atas “ini merupakan sebuah hadits yang mengumpulkan kebaikan, karena bila seorang hamba melihat orang yang berada di atasnya dalam kebaikan, ia menuntut jiwanya untuk turut bergabung dengan orang yang dilihatnya tersebut, iapun mengecilkan keadaanya ketika itu sehingga ia bersungguh-sungguh untuk menambah kebaikan. Bila dalam perkara dunianya, ia melihat kepada orang yang berada di bawahnya, akan tampak baginya nikmat Allah yang terlimpah kepadanya, iapun mengharuskan jiwanya bersyukur. Inilah makna ucapan Rasulullah di atas. Bila seseorang tidak melakukan ajaran nabi tersebut maka keadaanya jadi sebaliknya. Ia terkagum-kagum dengan amalannya sehingga ia malas untuk menambah kebaikan, ia membelalakkan kedua matanya kepada dunia dan berambisi untuk menambahnya. Nikmat Allah yang diperolehnyapun diremehkan dan tidak ditunaikan haknya.” (Ikmalul Mu’lim bi Fawaidhil Muslim,8/515)
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan nasehat yang akan mengobati penyakit yang mungkin ada di dalam dada, maka amalkanlah, selalulah melihat orang yang kekurangan dan lebih susah daripada kita.
Lihatlah! Allah telah memberikan tempat tinggal yang menaungi kita setiap harinya, maka syukurilah, karena berapa banyak tuna wisma di sekitar kita, mereka terpaksa tidur di emperan toko, di kolong jembatan, dan di dalam rumah-rumah kardus. Setiap harinya kita bisa makan dan minum, walau hidangan yang tersaji sederhana, maka syukurilah. Lihatlah disana, ada orang yang mengais-ngais sampah untuk mencari sesuatu yang dapat mengganjal perutnya yang lapar.
Kita diberi nikmat berupa pakaian yang dapat menutup aurat kita dan melindungi kita dari hawa panas dan dingin, walau harganya tak seberapa. Namun lihatlah disana ada orang-orang yang berpakaian compang-camping karena fakirnya.
Lihatlah dan tengoklah selalu kepada orang yang hidupnya sulit daripada kita, dengan begitu kita bisa mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada kita.
Ingatlah selalu bahwa dunia ini ibarat fatamorgana, tak berharga, maka jangan engkau terlalu berpanjang angan untuk meraihnya, tetapi berambisilah untuk kehidupanmu setelah mati. Disana ada negeri yang kekal menantimu…
Wallahu a’lam bishowab
Iklan

Komentar ditutup.