Bentuk-Bentuk Berhukum Dengan Selain Hukum Yang Diturunkan Allah

Soal:

Bagaimanakah bentuk-bentuk berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah?

Jawab:

Berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah terbagi menjadi dua:

Pertama: dia menghapus hukum Allah untuk mengganti kedudukannya dengan hukum lain yang merupakan hukum thagut dengan cara menghapuskan hukum syariat di antara manusia dan diganti dengan hukum lain yang dibuat oleh manusia (undang-undang buatan). Ini merupakan kekafiran yang mengeluarkan dari agama karena orang ini menjadikan dirinya sma dengan Sang Pencipta ketika dia mensyariatkan bagi hamba-hamba Allah sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah, bahkan sesuatu yang menyelisihi hukum Allah, dan menjadikannya sebagai hukum yang menghukumi di antara makhluk. Sungguh Allah Ta’ala telah menamakan hal tersebut sebagai kesyirikan dalam firman-Nya:

Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan oleh Allah?” (Asy-Syuraa: 21)

Kedua: hukum Allah tetap sebagaimana mestinya, kekuasaan milik hukum Allah, dan seluruh hukum bergantung kepadanya, akan tetapi datang seorang hakim dari para hakim, kemudian dia berhukum dengan selain hukum Allah, maka orang ini mempunyai tiga keadaan:

Satu: dia berhukum dengan hukum yang menyelisihi syariat Allah dalam keadaan meyakini bahwa hukum tersebut lebih utama dan lebih bermanfaat bagi hamba-hamba Allah, atau meyakini bahwa hukum tersebut mnyerupai hukum Allah atau meyakini bahwa boleh baginya untuk berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah. Maka ini adalah kekafiran, hakim tersebut keluar dari agama karena dia tidak ridha untuk berhukum dengan hukum Allah dan tidak menjadikan Allah sebagai hakim di antara hamba-hamba-Nya.

Dua: dia berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah dalam keadaan meyakini bahwa hukum Allah yang lebih utama dan lebih bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya. Akan tetapi dia bermaksiat kepada Allah karena dia ingin melakukan kezhaliman dan kesewenang-wenangan terhadap orang yang dihukumi karena antara dia dan orang tersebut terjadi permusuhan bukan karena tidak senang terhadap hukum Allah dan bukan untuk menggantinya. Dia tidak meyakini bahwa hukum apapun lebih utama atau setara dengan hukum Allah, akan tetapi semata-mata karena ingin memberikan mudharat kepada orang yang dihukumi. Maka pada keadaan seperti ini kita tidak mengatakan orang tersebut kafir, tetapi kita katakan bahwa dia telah melakukan kezhaliman, pelampauan batas dan kesewenang-wenangan.

Tiga: dia berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah dalam keadaan meyakini bahwa hukum Allah Ta’ala lebih utama dan lebih bermanfaat bagi hamba-hamba Allah, dan meyakini bahwa dengan berhukumnya ia dengan selain hukum Allah adalah kemaksiatan kepada Allah. Akan tetapi dia berhukum karena hawa nafsunya untuk suatu kemashlahatan yang kembali kepadanya atau kepada orang yang dihukumi, maka ini adalah kefasikan dan keluar dari ketaatan kepada Allah.

Berdasarkan tiga keadaan inilah turun firman Allah Ta’ala dalam tiga ayat:

Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah maka mereka itu orang-orang kafir.” (Al-Maaidah: 44), dan ini turun berkaitan dengan keadaan pertama.

Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah maka mereka itu orang-orang zhalim.” (Al-Maaidah: 45), turun berkaitan dengan keadaan yang kedua.

Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah maka mereka itu orang-orang fasik.” (Al-Maaidah: 47), turun berkaitan dengan keadaan yang ketiga.

Masalah ini termasuk masalah paling berbahaya yang terjadi pada zaman kita ini, karena di antara manusia ada yang sangat mencintai dan kagum dengan selain undang-undang kaum muslimin. Sampai ia tergila-gila dengannya, dan kadang-kadang lebih mendahulukannya daripada hukum Allah dan Rasul-Nya. Maka barangsiapa yang menyangka atau mengira bahwa selain hukum Allah Ta’ala pada masa kita ini lebih bermanfaat bagi hamba-hamba Allah daripada hukum yang syariatnya tampak pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam, maka dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata, dan wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah dan kembali kepada petunjuk Allah.

[Referensi: Ensiklopedi Fiqih Ibadah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin hal. 94-97, terbitan Gema Ilmu]

 

Komentar ditutup.