Apa Yang Dilakukan Jika Ragu Telah Meninggalkan Rukun Shalat

Soal:

Jika ragu dalam meninggalkan rukun, apa yang harus dilakukannya?

Jawab:

Jika dia ragu telah meninggalkannya, maka dia tidak lepas dari tiga keadaan:

1. Apakah keraguan tersebut sekedar persangkaan yang tidak ada hakikatnya, maka ini tidak berpengaruh atasnya. Dia tetap dalam shalatnya, seakan-akan dia tidak mendapatkan keraguan tersebut.

2. Ataukah keraguan ini mendominasi bersamanya, sebagaimana yang didapatkan pada kebanyakan orang-orang yang was-was. Kita meminta kepada Allah penjagaan untuk kami dan mereka. Janganlah dia juga menoleh kepada keraguan tersebut, bahkan dia terus dalam shalatnya. Bahkan jika dia telah keluar dari wakunya sedangkan dia melihat bahwa dia melakukan kekurangan dalam shalat tersebut, maka hendaknya dia lakukan dan janganlah hal itu menyibukkannya. Ataukah keraguannya setelah selesai shalat, maka demikian pula jangan dia menoleh kepadanya dan jangan dia memperhatikannya selama dia tidak yakin telah meninggalkannya.

3. Adapun jika keraguan itu di pertengahan shalat , maka para ulama berkata: barangsiapa yang ragu telah meninggalkan satu rukun yang dia tinggalkan, jika keraguan tersebut di pertengahan shalat, dan keraguan tersebut adalah keraguan yang sebenarnya bukan persangkaan dan bukan pula was-was, seandainya jika dia shalat, dan dalam pertengahan shalatnya dia ragu apakah dia sudah rukuk atau belum, maka kami katakan kepadanya: bangkit dan rukuklah, karena asalnya adalah tidak ada rukuk. Kecuali jika mendominasi fikirannya bahwa dia telah rukuk, maka yang benar dia mengamalkan persangkaan yang mendominasi, akan tetapi sujud sahwi setelah salam.

Sujud sahwi pada hakikatnya adalah perkara yang penting. Sepantasnya bagi seseorang untuk mengetahuinya, terlebih lagi para imam. Kebanyakan mereka tidak mengetahui hal tersebut. Ini adalah perkara yang tidak pantas bagi orang semisal mereka. Bahkan wajib seorang Mukmin untuk mengetahui batasan-batasan apa yang telah Allah turunkan kepada Rasul-Nya.

[Ensiklopedi Fiqih Ibadah As-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hal. 232-233, terbitan Gema Ilmu]

 

Komentar ditutup.