Sumpah dengan Selain Allah adalah Syirik

 Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma, ia pernah mendengar seorang laki-laki berkata, “Tidak, demi Ka’bah!” Maka Ibnu Umar berkata, “Jangan bersumpah dengan selain nama Allah. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka ia telah berbuat syirik.” [Hadits hasan diriwayatkan oleh at Tirmidzi (1535) dan Abu Dawud (3251)]

Hal ini dikuatkan pula oleh hadits Qutailah, seorang wanita dari Juhainah, seorang yahudi datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seraya berkata, “Sesungguhnya kalian membuat tandingan dan melakukan kemusyrikan. Sebab kalian mengatakan, ‘Jika Allah menghendaki dan engkau menghendaki (masya’allah wa syi’ta).’ Kalian juga mengatakan, ‘Demi Ka’bah!’ Setelah itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan mereka jika hendak bersumpah, hendaklah mengatakan, ‘Demi Rabb (Pemilik) Ka’bah.’ Nabi juga memerintahkan untuk mengatakan, ‘Jika Allah menghendaki, kemudian engkau menghendaki (masya’allah tsumma syi’ta)’.” [Hadits shahih diriwayatkan oleh An Nasa’i (VII/6) dan Abu Dawud (3251)]

Larangan bersumpah dengan selain Allah juga disebutkan dalam hadits-hadits lainnya, di antaranya:

1. Hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Janganlah kamu bersumpah dengan bapak-bapak kamu, ibu-ibu kamu, dan tandingan-tandingan yang lain. Janganlah kamu bersumpah kecuali kepada Allah, dan jangan kamu bersumpah kecuali bersumpah dengan benar.” [Shahih, riwayat Abu Dawud (3248) dan An Nasa’i (VII/5)]

2. Dari Abdurrahman bin Samurah radhiallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

Janganlah kamu bersumpah dengan menyebut thagut-thagut, dan janganlah bersumpah dengan menyebut ayah-ayah kamu.”  [Shahih, riwayat Muslim (1648), an Nasa’i (VII/7) dan Ibnu Majah (2095)]

3. Diriwayatkan dari Ibnu az-Zubair radhiallahu anhu, ketika Umar radhiallahu anhu dalam perjalanan dari Usfan, sejumlah orang mendahuluinya, lalu Umar mendahului mereka, maka Ibnu Zubair berkata, “Aku mempercepat jalanku untuk mendahuluinya. Aku berkata, ‘Aku mendahuluinya, Demi Ka’bah.’ Kemudian ia mempercepat jalannya dan mendahuluiku, lalu mengatakan, ‘Aku mendahuluinya, Demi Allah.’ Kemudian beliau berhenti seraya berkata, ‘Kalau tak salah, aku melihatmu bersumpah dengan Ka’bah. Demi Allah, jika aku tahu engkau berpikir untuk bersumpah seperti itu sebelum engkau bersumpah, niscaya aku menghukummu. Bersumpahlah dengan menyebut nama Allah, baik engkau melanggar sumpahmu maupun melaksanakannya.” [Hadits shahih, riwayat Abdurrazzaq (15927) dan al Baihaqi (X/29)

4. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu, ia berkata, “Sungguh aku bersumpah dengan menyebut nama Allah, kendatipun dusta, lebih aku sukai dari pada bersumpah dengan selain nama Allah, kendati benar.” [Shahih, diriwayatkan Abdurrazzaq (15929) dan selainnya. Lihat al-Irwa’ (VIII/192)

Sumber:

Shahih Fiqih Sunnah oleh Syaikh Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim hal. 418-419, terbitan Pustaka at-Tazkia

 

Komentar ditutup.