Antara Kejujuran dan Kedustaan

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah

Segala puji bagi Allah Dzat pemilik pujian. Dialah yang membalas pahala orang-orang yang jujur dengan rahmat dan keutamaan-Nya. Dialah yang mengazab orang-orang yang berdusta dengan hikmah dan keadilan-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, tiada sekutu pada ketentuan-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Shalawat dan salam tercurahkan kepada beliau, keluarga, sahabat dan para pengikut beliau.

Selanjutnya, wahai manusia bertakwalah kepada Allah Ta’ala, bersamalah dengan orang-orang yang jujur terhadap Allah dan manusia. Jujurlah kalian terhadap Allah dalam peribadatan kepada-Nya. Beribadahlah kepada-Nya dalam keadaan ikhlas, tidak riya’, atau sum’ah. Tunaikanlah perintah-Nya dalam rangka mengharap kedekatan dengan-Nya dan pahala-Nya. Jauhilah larangan-Nya karena takut jauh dari-Nya dan terjatuh dalam siksa-Nya. Janganlah kalian berharap manusia melihat dan mendengar amalan kalian lalu mereka memujinya. Sesungguhnya Allah paling tidak butuh dari kesyirikan. Barangsiapa beramal dalam keadaan menyekutukan Allah maka Allah akan membiarkan orang tersebut beserta kesyirikannya.

Jujurlah kalian terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dalam mengikuti beliau secara lahir maupun batin. Tidak meremehkan, tidak pula berlebih-lebihan. Jujurlah kalian terhadap manusia dalam pergaulan. Beritakan sesuatu yang memang benar-benar terjadi saat kalian menyampaikan berita kepada manusia. Terangkan hakikat sebuah perkara saat kalian bergaul dengan manusia.

Itulah kejujuran yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman (artinya): “Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah dengan orang- orang yang jujur.” [At Taubah: 119].

Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Hendaknya kalian jujur karena kejujuran itu akan membawa pelakunya kepada kebaikan sedangkan kebaikan akan membawa kepada surga. Seseorang senantiasa jujur dan membiasakan untuk jujur sampai ditetapkan Allah sebagai orang yang berwatak jujur.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menjelaskan di dalam hadits ini bahwa kejujuran itu memiliki akibat dan orang yang jujur memiliki kedudukan. Adapun akibat kejujuran adalah kebaikan lalu surga. Sedangkan kedudukan orang yang jujur adalah kepemilikan watak kejujuran. Watak kejujuran menempati kedudukan setelah kenabian. Allah berfiman (artinya): “Dan barangsiapa menaati Allah dan rasul-Nya maka mereka bersama orang-orang yang Allah beri kenikmatan kepadanya dari kalangan nabi, orang-orang berwatak jujur, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Mereka itulah sebaik-baik teman.” [An Nisaa’ : 69]

Orang yang jujur itu diistimewakan oleh manusia baik saat ia masih hidup maupun setelah wafat. Orang yang jujur dipercaya berita, pergaulannya dan dipuji oleh manusia. Ia pun didoakan dengan rahmat setelah meninggal dunia.

Hati-hatilah –wahai kaum muslimin- dari kedustaan. Hati-hatilah dari kedustaan dalam beribadah kepada Allah. Janganlah kalian beribadah dalam keadaan riya’, sum’ah, pura-pura dan nifaq. Hati-hatilah dari kedustaan dalam mengikuti utusan Allah. Janganlan kalian melakukan perkara baru dalam syariat beliau dan menyelisihi petunjuk beliau.Hati-hatilah dari kedustaan saat bersama manusia. Janganlah kalian menyampaikan berita yang tidak sesuai kenyataan kepada manusia. Janganlah kalian menyembunyikan hakikat sebenarnya saat bergaul dengan manusia.

Sesungguhnya seorang mukmin tidak mungkin berdusta karena kedustaan itu salah satu perangai orang-orang munafik. Allah berfirman (artinya): “Dan Allah mempersaksikan bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar berdusta.”  [Al Munafiquun : 1].

Allah berfirman (artinya): “Di dalam kalbu mereka (orang-orang munafik)terdapat penyakit. Maka Allah pun menambahkan penyakit kepada mereka. Bagi mereka azab yang pedih karena kedustaan yang mereka lakukan.” [Al Baqarah:10].

Allah berfirman (artinya): “Hanyalah  yang membuat kedustaan itu adalah orang-orang yang tidak beriman terhadap ayat-ayat Allah. Merekalah orang-orang yang berdusta.”  [An Nahl : 105].

Sesungguhnya seorang mukmin itu tidak mungkin berdusta karena ia adalah orang yang beriman terhadap ayat-ayat Allah, rasul-Nya dan sabda beliau (artinya): “Sesungguhnya kedustaan itu membawa pelakunya kepada kefajiran sedangkan kefajiran itu membawa kepada neraka.Seseorang senantiasa berdusta dan membiasakan untuk berdusta sampai ditetapkan Allah sebagai orang yang berwatak pendusta.”

Betapa buruk akibat kedustaan dan betapa rendah kedudukan orang yang berdusta. Kedustaan menyeret kepada kefajiran. Kefajiran adalah penyimpangan dari jalan yang lurus. Kemudian kefajiran akan menjerumuskan ke dalam neraka. Orang yang berdusta itu rendah karena ia akan ditetapkan Allah sebagai orang yang berwatak pendusta. Sejelek-jelek perangai adalah kedustaan bagi orang yang berperangai dengannya.

Sesungguhnya seseorang itu tentu mengelak untuk dipanggil di tengah manusia: “Wahai pendusta !” Lalu bagaimana ia rela terus menerus ditetapkan di sisi Allah sebagai  pendusta ?! Sesungguhnya orang yang berdusta itu akan dijauhi manusis ketika ia masih hidup. Ia tidak dipercaya dalam penyampaian berita atau pergaulannya. Sesungguhnya ia akan didoakan kejelekan ketika ia telah mati.

Allah Ta’ala menyebutkan kedustaan beriringan dengan peribadatan kepada berhala. Allah Ta’ala berfirman (artinya): “Maka kalian jauhi berhala-berhala yang najis  itu dan jauhi pula perkataan dusta.” [Al Hajj : 30]    

Lalu apakah setelah ini seorang mukmin masih menjadikan kedustaan sebagai tunggangan saat berjalan atau pola pikir saat ia hidup ?!

Sungguh, dahulu orang-orang kafir dalam kekafirannya dan orang-orang musyrik jahiliah dalam kejahiliahannya tidak menjadikan kedustaan itu sebagai tunggangan, tidak menjadikannya sebagai pola pikir saat mereka hidup dan tidak pula sebagai sarana mencapai kebutuhan. Inilah Abu Sufyan. Ia pergi –sebelum masuk Islam- bersama rombongan dagang Quraisy menuju Syam. Tatkala Heraklius, raja Romawi mendengar kedatangan mereka maka Heraklius mengirim utusannya untuk bertanya kepada mereka tentang Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Abu Sufyan berkata: “Demi Allah! Kalau bukan karena rasa malu untuk mereka (rombongan dagang Quraisy) mempengaruhiku untuk berdusta  maka sungguh aku akan berdusta (perihal nabi ini).”

Demikianlah, wahai kaum mukminin. Orang-orang kafir dalam kekafirannya dan orang jahiliah dalam kejahiliahannya mejauhkan diri dari kedustaan, mereka malu untuk dipengaruhi dan disematkan kedustaan kepada mereka. Lalu bagaimana dengan kalian wahai kaum mukminin?! Allah telah menganugerahkan kepada kalian agama yang sempurna ini. Agama yang mengajak dan menganjurkan kalian untuk jujur. Agama yang menerangkan kepada kalian tentang akibat  dan buah yang baik dari kejujuran. Agama yang melarang dan mencegah kalian dari kedustaan. Agama yang menerangkan kalian tentang akibat dan buah yang buruk dari kedustaan.

Sesungguhnya sebagian orang yang tertipu dari umat ini merasa nikmat dengan kedustaan dan membolehkan hal itu untuk dirinya. Demikian ini bisa terjadi karena mereka meremehkan kedustaan, memiliki keyakinan yang rusak ketika dirinya menyangka bahwa kedustaan itu tidaklah diharamkan kecuali bila sampai memakan harta orang lain, adanya ketamakan terhadap materi duniawi, atau sekedar ikut-ikutan.

Kedustaan satu kali akan merobek tirai yang membatasi dirimu dari kedustaan sampai tidak ada satu pun tirai yang tersisa. Bila jiwa manusia itu terjatuh ke dalam kedustaan satu kali maka kedustaan akan terasa ringan baginya. Lalu terjatuh ke dalam kedustaan kedua kalinya. Dan terasa lebih ringan baginya, sampai kedustaan menjadi tabiat baginya. Dirinya berdusta dan membiasakan untuk berdusta sampai dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.

Kedustaan itu haram, sekalipun tidak memakan harta orang lain dengan cara batil. Tidak ada di dalam Al Qur’an maupun As Sunnah yang menyebutkan bahwa kedustaan itu baru diharamkan ketika memakan harta orang lain. Namun, bila sampai memakan harta orang lain maka lebih besar dosanya dan lebih keras siksanya.

Sebagian manusia berdusta untuk membuat orang lain tertawa. Mereka suka hal itu karena melihat manusia tertawa. Lalu mereka terus menerus melakukannya dan menganggap kecil kedustaan. Padahal telah datang sebuah hadits (artinya): “Celaka bagi seseorang yang bercerita dan berdusta untuk membuat orang lain tertawa. Celaka ia dan celaka ia.”

Sebagian manusia lain berdusta terhadap anak-anak kecil dengan alasan anak-anak kecil belum mampu membantah dirinya. Padahal hakikatnya ia telah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kedustaan, mulai membuka pintu kedustaan kepada anak-anak dan mendidik kedustaan kepada mereka.

Ya Allah jauhkanlah kami dari kemungkaran akhlak, amalan, hawa nafsu dan penyakit. Berilah kami petunjuk berupa kebaikan akhlak dan amalan. Anugerahkanlah kepada kami kecintaan kepada iman dan hiasilah kalbu kami dengannya. Jadikanlah kami benci kepada kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Ya Allah limpahkanlah shalawat dan salam kepada hamba dan nabi-Mu Muhammad, keluarga dan segenap sahabat beliau.

Dialihbahasakan dari salah satu khutbah beliau yang dihimpun di dalam kitab “Adh Dhiyaa’ul Laami’ Minal Khuthabil Jawaami’ dengan beberapa perubahan.

Komentar ditutup.