Category Archives: Fiqh

“Mendulang Pahala Dengan Shalat Berjamah“

 

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orangorang yang rukuk.” (al Baqarah: 43)

Tafsir Ayat

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ

“Dan dirikanlah shalat.”

 Berasal dari kata ) قَامَ ( yang bermakna tetap dan kokoh. Jadi, yang dimaksud ) أَقَامَ ( adalah menetapkan dan mengokohkan. Dengan demikian, menegakkan shalat maknanya adalah menunaikannya dengan melakukan rukunrukunnya, sunnah-sunnahnya, dan tata caranya yang dilakukan pada waktunya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Menegakkan shalat adalah menyempurnakan rukuk dan sujud, bacaan, kekhusyukan, dan konsentrasi.” Baca lebih lanjut

Qunut Witir

Definisi Qunut

Secara etimologi, qunut bermakna banyak. Ada lebih dari sepuluh makna sebagaimana nukilan Al-Hâfizh Ibnu Hajar, dari Al-Iraqy, dan Ibnul Araby.

Makna-makna tersebut adalah: 1) Doa, 2) Khusyu’, 3) Ibadah, 4) Taat, 5) Pelaksanaan ketaatan, 6) Penetapan ibadah kepada Allah, 7) Diam, Shalat, 9) Berdiri, 10) Lama berdiri, dan 11) Kontinu  dalam ketaatan.[1]

Adapun secara terminologi, qunut bermakna seperti yang disebutkan oleh Al-Hâfizh Ibnu Hajr Al-Asqalâny rahimahullâh, “Doa dalam shalat pada tempat khusus dalam keadaan berdiri.”[2] Baca lebih lanjut

Pembayaran Kaffarah

Siapa yang Berkewajiban untuk Membayar Kaffarah?

Kaffarah puasa adalah denda yang dikenakan atas seseorang karena tiga perkara:

  1. Berhubungan suami istri (jima’).
  2. Melakukan hubungan tersebut pada siang hari Ramadhan. Adapun, jika melakukannya pada malam hari Ramadhan atau di luar Ramadhan, seperti saat membayar tunggakan puasa Ramadhannya, ia tidaklah dikenakan kaffarah.
  3. Dalam keadaan berpuasa. Adapun, jika seseorang berhubungan saat Rama­dhan dan dalam keadaan tidak berpuasa, seperti seseorang yang kembali dari perjalanan dalam keadaan tidak berpuasa, lalu mendapati istrinya usai mandi suci terhadap haidh kemudian keduanya berhubungan, keadaan seperti ini tidaklah dikenakan kaffarah. Baca lebih lanjut

Beberapa Hukum dan Etika yang Berkaitan dengan Pembahasan

Tidak Ada Dua Shalat Witir dalam Semalam

Telah diketahui tentang keutamaan pelaksanaan shalat Tarawih bersama imam sampai selesai, walaupun pelaksanaan tersebut di awal malam. Juga diketahui bahwa dilarang mengerjakan shalat Witir sebanyak dua kali dalam semalam sebagaimana keterangan dalam hadits,

لَا وِتْرَانِ فِيْ لَيْلَةٍ

“Tidak ada dua (shalat) Witir dalam semalam.” [1]

Pelaksanaan Qiyamul Lail pada Akhir Malam Setelah Pelaksanaan Shalat Witir pada Awal Malam[2 Baca lebih lanjut

Amalan Yang Paling Utama

Syaikhuna As-Syaikh Al Muhaddits Al Hafizh Al Faqih Mufti Kerajaan Saudi Arabia Bagian Selatan, Ahmad bin Yahya bin Muhammad Syabir An-Najmi Alu Syabir Al Atsari –Hafizhahullah- menyampaikan kepada saya dengan sanad yang bersambung sampai kepada Al Imam Al Hafizh Abu Muhammad Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al Maqdisi –Rahimahullah-, beliau berkata dalam kitabnya Umdatul Ahkam : Baca lebih lanjut